TULUNGAGUNG, 3detik.com – Sekolah dasar (SD) di Kabupaten Tulungagung diminta tidak hanya membuka pintu bagi anak berkebutuhan khusus, tetapi juga memastikan mereka mendapat ruang belajar yang aman, nyaman, dan bebas diskriminasi.
Praktik bullying, stigma, maupun perlakuan berbeda terhadap peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) ditegaskan tidak boleh terjadi di lingkungan sekolah.
Penegasan tersebut disampaikan Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung dalam kegiatan Penguatan Pendidikan Inklusi Jenjang Sekolah Dasar Tahun 2026, Jumat (11/9/2026).
Kegiatan yang diisi dengan bimbingan teknis (bimtek) pendidikan inklusi bersama pemateri dari Universitas Surabaya (Ubaya) itu diikuti sekitar 130 guru dari sekolah-sekolah di Kecamatan Tulungagung yang memiliki peserta didik berkebutuhan khusus.
Plt Kepala Dinas Pendidikan Tulungagung Fajarwidariyanto melalui Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar, Dwi Teguh Prasetya, menegaskan pendidikan merupakan hak semua anak tanpa terkecuali.
Menurutnya, pendidikan inklusi bukan sekadar menerima anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler. Sekolah juga harus mampu memberikan layanan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.
“Pendidikan inklusi bukan sekadar program tambahan, tetapi menjadi bagian dari sistem pendidikan yang harus mampu merangkul keberagaman peserta didik,” tegas Teguh.
Karena itu, kesiapan sekolah menjadi hal penting. Selain sarana dan prasarana yang lebih aksesibel, guru juga harus memiliki kemampuan untuk mengenali kebutuhan peserta didik sejak dini.
Mulai dari identifikasi awal, asesmen diagnostik, penyusunan modul ajar hingga Program Pembelajaran Individual (PPI) perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak.
Teguh menyebut guru menjadi salah satu kunci keberhasilan pendidikan inklusi. Menghadapi peserta didik dengan karakter dan kebutuhan yang beragam membutuhkan kesabaran, empati, serta metode pembelajaran yang tepat.
Persoalan bullying dan stigma juga menjadi perhatian serius. Sekolah harus memastikan tidak ada anak yang dikucilkan atau menjadi korban perundungan hanya karena memiliki kebutuhan khusus.
“Sekolah inklusi harus menjadi ruang yang aman bagi semua anak,” ujarnya.
Dinas Pendidikan Tulungagung memastikan penguatan pendidikan inklusi tidak berhenti pada kegiatan bimtek. Pendampingan, fasilitasi, dan kolaborasi dengan berbagai pihak akan terus dilakukan agar penerapan pendidikan inklusi di tingkat SD berjalan optimal dan berkelanjutan.
Upaya tersebut dinilai penting karena pendidikan dasar menjadi fondasi pembentukan karakter anak. Sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat mengejar prestasi, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan empati dan sikap saling menghargai perbedaan,” ungkapnya.***












