TRENGGALEK, 3detik.com – Pemkab Trenggalek mulai memperkuat strategi ketahanan pangan dan gizi. Salah satunya dengan meluncurkan Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal (RAD-PGBPSDL) 2025-2029.
Peluncuran berlangsung di Aula Dinas PUPR Trenggalek, Selasa (22/9/2026). Program ini disusun bersama Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL), GAIN dan Garda Pangan.
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengatakan, ketahanan pangan tidak boleh hanya mengejar produksi sebanyak-banyaknya. Pengelolaannya harus tetap memperhatikan lingkungan serta ancaman perubahan iklim dan bencana.
“Boleh produksi pangan sebanyak-banyaknya, tapi tidak boleh membahayakan lingkungan di masa yang akan datang,” tegas Mas Ipin.
Menurutnya, potensi pangan Trenggalek cukup besar dan bisa dikembangkan tanpa merusak alam. Salah satunya melalui mangrove aquaculture, sehingga masyarakat tetap bisa mendapatkan ikan, udang maupun kepiting sekaligus menjaga ekosistem mangrove.
Pengembangan pangan di sekitar kawasan hutan juga diarahkan tanpa membuka tutupan hutan. Komoditas seperti ubi jalar dan porang dinilai bisa menjadi alternatif sumber karbohidrat selain beras.
Pemkab Trenggalek juga telah menetapkan lebih dari 10.000 hektare sawah sebagai Sawah Abadi. Kebijakan itu akan diperkuat melalui Perda tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) agar lahan produktif tidak mudah dialihfungsikan.
“Ini juga sejalan dengan target kita menuju net-zero carbon 2045, tetapi tetap berpendapatan tinggi dan memiliki daya saing,” ujarnya.
Tak hanya soal produksi, RAD-PGBPSDL juga menyasar persoalan gizi masyarakat. Sejumlah target ditetapkan hingga 2030.
Ketidakcukupan konsumsi pangan ditargetkan turun dari 12,07 persen menjadi 9,92 persen, sedangkan daerah rentan rawan pangan dari 10,19 persen menjadi 7,01 persen.
Untuk sektor kesehatan, angka obesitas ditargetkan turun dari 11,90 persen menjadi 10,4 persen, sementara anemia ibu hamil dari 9,28 persen menjadi 9,23 persen.
Di sisi lingkungan, Trenggalek membidik pengurangan emisi gas rumah kaca hingga 1,1 juta ton CO2 ekuivalen secara kumulatif. Pengolahan sisa bahan organik juga ditargetkan mencapai 1.149 ton untuk menekan food waste.
Kepala Sekretariat KSPL Gina Karina mengatakan, target tersebut akan dijalankan melalui sejumlah aksi. Di antaranya pengembangan sentra produksi pangan dan kawasan minapolitan, perlindungan petani, peternak dan nelayan, serta kampanye pangan Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA).
Program juga diarahkan untuk memperkuat Germas serta pengendalian sisa pangan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Target-target tersebut akan dicapai melalui berbagai aksi kunci yang telah kita susun bersama para pemangku kepentingan,” kata Gina.
RAD-PGBPSDL juga dilengkapi SOP Integrasi yang menghubungkan program, indikator, pembiayaan dan peran masing-masing perangkat daerah. Integrasi tersebut mencakup empat sektor, yakni lingkungan, kesehatan, perlindungan sosial dan air.
Perencana Muda Kementerian PPN/Bappenas Bahagiati Maghfiroh menilai perubahan iklim perlu menjadi bagian penting dalam kebijakan pangan daerah. Sebab, perubahan iklim dapat meningkatkan kerentanan pangan dan kesehatan masyarakat.
Melalui RAD-PGBPSDL, Pemkab Trenggalek menargetkan terbentuknya sistem pangan lokal yang tidak hanya kuat dari sisi produksi, tetapi juga sehat, beragam, terjangkau, ramah lingkungan dan tahan terhadap perubahan iklim.
Pemkab berharap langkah tersebut bisa menjadi pemantik bagi daerah lain untuk mengembangkan kebijakan pangan dan gizi berbasis potensi lokal.***












