TULUNGAGUNG, 3detik.com – Insiden bencana tanah longsor di Desa Babatan, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Tulungagung, Selasa (19/8/2025) lalu, menuai protes salah seorang warga setempat. Ia merupakan salah satu korban dari bencana tersebut.
Lastri salah satu anak korban bencana longsor Dusun Pereng, ia mengaku bahwa insiden tanah longsor ini adalah sebuah bencana yang dipicu curah hujan.
Akibat bencana itu, beberapa bagian rumahnya mengalami kerusakan, seperti pagar dinding, dapur, hingga kandang ayam. Estimasi kerugian yang dialami Lastri ditaksir Rp22 juta.
Namun, menurut Lastri, bencana tanah longsor tidak datang secara mendadak. Ada faktor yang mempengaruhinya, salah satunya karena parit yang disumbat.
Penyumbatan aliran air itu memakai kayu, bambu, dan tanah, untuk tujuan mengalihkan aliran air ke sawah.
“Parit ditutup akhirnya airnya numpuk di belakang rumah terjadilah longsor. Karena tanah kering kena banyu (air), merembes jadi longsor,” ungkapnya.
Meski begitu, Lastri enggan menyebut nama orang yang sengaja mengalihkan aliran air tersebut.
“Yang mengolah lahan tersebut. Heem. Semua warga sini tahu lah. Nggih. Enggan untuk menyebutkan namanya,” ucapnya.
Dengan musibah yang menimpanya, Lastri berharap supaya menggunakan air untuk sawah yang secukupnya.
“Harapannya untuk ke depannya itu mbok yo irigasinya dibenahi,” ujarnya.
Sementara mengenai material longsor, Lastri mengaku sudah dibersihkan, meski sebagian. Sedangkan, tambah Lastri, ada informasi BPBD akan mendatangkan bego untuk membersihkan sebagian material longsor sisanya.
“Kemarin katanya BPBD kemarin sudah datang Babinsa, ini tadi Pak Lurah juga katanya mau dibego, kok enggak ada. Terus enggak ada, ini sampai jam segini pun enggak ada,” ujarnya.
Di sisi lain, Kepala Desa Babatan Suyitno mengonfirmasi bahwa pihaknya sudah mengajukan bantuan alat berat atau bego untuk membersihkan material longsor yang menimpa rumah milik Lastri.
Namun begitu belum ada respons dari pihak BPBD.
“Sudah saya hubungi lewat WA, tapi slow respons,” ungkapnya.***