TRENGGALEK , 3detik.com – Puncak peringatan Hari Jadi ke-832 Trenggalek akan berlangsung semarak. Masyarakat akan disuguhi pagelaran wayang kulit dengan lakon Wahyu Makutha Rama, Senin (31/8/2026).
Tak sembarang dalang, pagelaran tersebut menghadirkan dalang kondang Ki Purbo Asmoro. Kehadirannya dipastikan menjadi magnet tersendiri bagi pecinta wayang kulit di Trenggalek.
Tak hanya itu, suasana pertunjukan juga bakal semakin gayeng dengan hadirnya Duo-Jo, yakni Jo Klitik dan Jo Kluthuk, dua pelawak kawakan jebolan Ketoprak Siswo Budoyo.
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengatakan pemilihan lakon Wahyu Makutha Rama bukan tanpa alasan. Cerita tersebut dinilai memiliki keterkaitan yang kuat dengan tema Hari Jadi ke-832 Trenggalek, yakni “Hambeging Bumi.”
Menurut Mas Ipin, sapaan akrab Bupati Trenggalek, Hambeging Bumi memiliki makna tentang laku kesatria yang membumi. Nilai tersebut nantinya tergambar melalui perjalanan cerita dalam lakon Wahyu Makutha Rama.
“Pagelaran wayang kulit lakonnya Wahyu Makutha Rama, selaras dengan Hambeging Bumi. Artinya, laku kesatria yang membumi,” ujar Mas Ipin.
Ia menjelaskan, kisah tersebut tidak sekadar menjadi tontonan hiburan. Di balik cerita wayang, terdapat pitutur atau pesan yang diharapkan bisa menjadi bahan perenungan bagi masyarakat.
“Kesatria yang membumi nanti diceritakan dalam lakon Wahyu Makutha Rama. Jadi, untuk mendapatkan wahyu itu, laku yang seperti apa?” jelasnya.
Pesan tersebut, lanjut Mas Ipin, diharapkan bisa menjadi tutunan bagi masyarakat secara luas. Terlebih lagi bagi mereka yang memiliki tanggung jawab lebih besar terhadap orang lain.
“Harapannya nanti itu yang dijadikan pitutur. Baik bagi masyarakat secara umum maupun secara khusus yang punya tanggung jawab lebih, harus berbuat lebih baik,” katanya.
Sementara itu, terpilihnya Ki Purbo Asmoro sebagai dalang juga memiliki cerita tersendiri bagi Mas Ipin. Ia mengaku sudah cukup lama tidak bertemu dengan dalang senior tersebut.
Mas Ipin mengenang pertemuan terakhirnya dengan Ki Purbo Asmoro saat acara syukuran di rumah sang dalang.
“Dulu saya menyembelih kerbau ketika pasca kemenangan yang pertama. Waktu itu beliau wayangan dan sekarang kami hadirkan di sini,” ungkapnya.
Ia berharap pagelaran wayang kulit tersebut dapat menjadi hiburan sekaligus ruang berkumpul bagi masyarakat Trenggalek dalam menutup rangkaian Hari Jadi ke-832.
“Semoga masyarakat Trenggalek berkenan,” simpulnya.***












