Scroll untuk baca artikel
Flores Timur

Rekaman Suara 96 Tahun Kembali ke Flores, Bikin Warga Merinding hingga Menangis

×

Rekaman Suara 96 Tahun Kembali ke Flores, Bikin Warga Merinding hingga Menangis

Share this article
Stefanus Raja Koten, 75, yang berada di lokasi tiba-tiba teringat

FLORES TIMUR , 3detik.com – Suasana tiba-tiba hening ketika sebuah rekaman suara lama terdengar di Lewoloba, Kecamatan Ile Mandiri, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Stefanus Raja Koten, 75, yang berada di lokasi tiba-tiba setuju. Ia mengenali lagu yang mengalun dari rekaman tersebut.
Tubuhnya terlihat merinding. Kedua tangan memegang lengan sebelum akhirnya berbisik, “Aduh, saya merinding.”

Suara yang membuat Stefanus memutarnya bukan rekaman biasa. Suara tersebut direkam hampir satu abad lalu, tepatnya pada tahun 1930, oleh etnomusikolog asal Belanda, Jaap Kunst.

Saat melakukan penelitian di Flores, Kunst merekam 182 lagu menggunakan 75 silinder lilin. Ia juga mendokumentasikan kehidupan masyarakat melalui foto dan film.

Kini, rekaman berusia hampir satu abad itu kembali didengarkan masyarakat di daerah asalnya melalui proyek restitusi digital.

Proyek tersebut melibatkan Barbara Titus, etnomusikolog Universiteit van Amsterdam sekaligus kurator Koleksi Jaap Kunst, bersama peneliti Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC) Inriyani Takesan, Lommi Dida Kini dan Julius J. Seran Goran.

Sebelumnya, koleksi Jaap Kunst yang telah didigitalisasi diserahkan kepada Pemerintah NTT melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan NTT pada bulan September 2024.

Sebagian besar koleksi kemudian dapat diakses masyarakat melalui Jaap Kunst Hoek di perpustakaan tersebut di Kupang.

Namun, bagi Barbara, arsip yang tersimpan di Kupang belum sepenuhnya dikembalikan kepada masyarakat sumbernya.

“Kupang masih terlalu jauh,” katanya .

Tim kemudian membawa kembali rekaman tersebut lebih dekat ke sumbernya, yakni sejumlah desa di Flores Timur, termasuk Lewoloba, Waibao dan Riangkroko.

Di tempat-tempat itu, suara lama tersebut menimbulkan berbagai reaksi. Ada yang mengenali lagu, menemukan perbedaan, menangis, hingga kembali memainkan tradisi yang hilang terlupakan.

Rekaman Lama Jadi Pemantik Tarian

Di Lewoloba, Stefanus menemukan adanya perbedaan antara catatan Kunst dengan ingatan masyarakat.

Menurutnya, urutan lagu yang direkam pada tahun 1930 tidak sesuai dengan urutan yang seharusnya. Sebab, lagu, syair dan tarian merupakan satu kesatuan yang harus dipelajari bersama.

Secara pribadi, jumlah orang yang masih menguasai tradisi tersebut semakin sedikit.

Stefanus pun berupaya mengajarkannya kepada generasi muda.

Rekaman dan film lama akhirnya menjadi pembaca warga untuk kembali tampil.

Pada tanggal 9 Agustus, sekitar 10 lelaki Lewoloba mengenakan pakaian adat, sarung dan membawa parang. Mereka kembali menampilkan tiga tarian dan dua nyanyian.

Pemandangan itu berlangsung di bawah gunung yang sama dengan lokasi Jaap Kunst mendokumentasikan tradisi tersebut hampir 100 tahun yang lalu.

Arsip yang aslinya hanya berupa suara dan gambar yang akhirnya diwujudkan kembali melalui gerakan tubuh masyarakat.

Ada yang Menangis, Ada yang Kembali Bernyanyi

Cerita berbeda muncul di Waibao, Kecamatan Tanjung Bunga.
Yakobus Sogan Brinu selama bertahun-tahun berusaha mempertahankan tradisi tandak yang memadukan nyanyian, syair, bahasa adat dan gerak tari.

Namun pewaris tradisi tersebut semakin berkurang. Dua orang yang dulu bersamanya merekonstruksi lagu-lagu lama bahkan telah meninggal dunia.

Sogan mengaku prihatin karena generasi muda lebih dekat dengan teknologi digital, tetapi kurang tertarik mempelajari tradisi leluhur.

Ia bahkan menangis saat menceritakan kondisi tersebut.

“Perhatian terhadap lagu-lagu ini muncul ketika orang dari luar negeri datang.Tetapi setelah mereka pergi, perhatian itu hilang lagi,” katanya.

Saat rekaman lama diputar, warga juga menemukan adanya perubahan.

Sebagian menganggap tradisi tersebut masih ada, tetapi bentuknya berbeda.
Bagi Sogan, perubahan itu menjadi persoalan karena lagu tersebut berkaitan dengan musim berkebun serta pengetahuan masyarakat pada masa lalu.

Namun, Barbara mengingatkan bahwa perubahan tidak selalu berarti sebuah tradisi telah hilang.

“Tradisi selalu berubah,” katanya.
Menurutnya, tradisi tidak harus dilakukan terus-menerus seperti masa lalu untuk disebut masih hidup.

Mendengar Suara Kakek yang Tak Pernah Dikenal

Momen paling emosional terjadi di Riangkroko.

Saat rekaman diputar, warga dibuat merinding. Salah satunya Merien, keturunan penyanyi yang suaranya direkam Jaap Kunst.

Merien tidak pernah bertemu kakeknya.
Namun melalui rekaman tersebut, untuk pertama kalinya ia mendengar suara leluhur yang selama ini hanya diketahui melalui cerita keluarga.

Hampir satu abad rentang waktu seolah runtuh hanya dalam beberapa menit.

Sayangnya, Merien tidak lagi mampu melantunkan syair tersebut. Kemampuan itu sebelumnya diwariskan kepada kakaknya yang kini telah meninggal.

Meski begitu, di Riangkroko masih ada generasi muda yang mampu melantunkan syair maupun mantra warisan leluhur.

Tradisi Berubah, Bukan Berarti Mati

Hal serupa terlihat dalam tradisi O Vos Omnes di Larantuka.

Rekaman tahun 1930 menunjukkan sejumlah perbedaan dengan penampilan saat ini, mulai dari tempo, karakter vokal hingga pengucapan.

Pelakunya pun berubah. Jika dulu laki-laki yang bernyanyi, kini perempuan ikut mengambil peran.

Namun tradisi tersebut tetap hidup.
O Vos Omnes masih menjadi bagian dari tradisi Semana Santa atau Pekan Suci di Larantuka. Anak-anak mengenal melodinya dari orang tua dan kakek-nenek mereka.

Setiap tahun, tradisi itu juga tetap dijalankan dalam rangkaian prosesi Jumat Agung.

Bagi peneliti, kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan tidak otomatis berarti hilangnya sebuah tradisi.

Arsip Pulang, Masyarakat yang Menentukan

Perjalanan rekaman Jaap Kunst pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang arsip yang kembali dari Belanda ke Indonesia.

Lebih dari itu, arsip tersebut kembali bertemu dengan masyarakat yang memiliki hubungan langsung dengan suara-suara di dalamnya.

Barbara menilai digitalisasi hanyalah langkah awal.

Arsip baru benar-benar hidup ketika kembali bertemu dengan masyarakat yang memahami bahasa, lagu, syair dan tradisi yang ada di dalamnya.

Oleh karena itu, masyarakat tidak harus dipaksa mengembalikan tradisi yang masih ada seperti dokumentasi tahun 1930.

Mereka hanya diberi ruang untuk menentukan sendiri bagaimana arsip tersebut akan digunakan.

“Yang paling penting adalah membangun dan memelihara hubungan. Itu paling baik dilakukan bersama-sama,” kata Barbara.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesarnya bukan hanya apakah arsip Jaap Kunst sudah pulang.

Melainkan, apa yang dilakukan masyarakat setelah suara leluhur itu kembali?

Ada yang merinding. Ada yang menangis. Ada yang untuk pertama kalinya mendengar suara kakeknya.
Ada pula yang kembali bernyanyi dan menari.

Suara yang direkam hampir satu abad lalu akhirnya menemukan kembali tempatnya: bukan hanya di dalam arsip, tetapi di tengah masyarakat yang mewarisinya.***