TULUNGAGUNG, 3detik.com – Gelar sarjana bukan tiket untuk berhenti belajar. Lulusan STAI KH. Muhammad Ali Shodiq Tulungagung justru diminta membuktikan ilmunya dengan terjun dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin saat menghadiri Wisuda Sarjana (S-1) STAI KH. Muhammad Ali Shodiq di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien Ngunut, Sabtu (26/9/2026).
Baharudin mengatakan, wisuda bukan garis akhir, melainkan awal bagi para lulusan memasuki dunia pengabdian. Gelar yang diperoleh harus dibarengi kemampuan untuk menghadapi persoalan nyata di tengah masyarakat.
“Gelar sarjana merupakan gerbang awal menuju pengabdian yang sesungguhnya di tengah masyarakat,” kata Baharudin.
Menurutnya, para lulusan memiliki modal yang cukup kuat karena tidak hanya mendapatkan pendidikan akademik. Lingkungan pesantren juga membentuk bekal keagamaan, akhlak, dan spiritualitas.
Namun, bekal tersebut harus terus dikembangkan. Di tengah perubahan teknologi dan dinamika global yang bergerak cepat, para sarjana dituntut tidak berhenti belajar, mampu berpikir kritis, serta adaptif terhadap perubahan.
Baharudin juga mendorong alumni STAI KH. Muhammad Ali Shodiq menjadi intelektual muslim yang mampu menawarkan solusi atas berbagai persoalan sosial.
“Jadilah intelektual muslim yang membawa solusi atas persoalan sosial dan berkontribusi nyata dalam pembangunan SDM serta ekonomi keumatan,” ujarnya.
Pemkab Tulungagung, lanjut Baharudin, terus mendorong penguatan pendidikan sebagai bagian dari pembangunan kualitas sumber daya manusia. Perguruan tinggi dan pesantren dinilai memiliki peran penting dalam proses tersebut.
Karena itu, sinergi antara pemerintah, kampus, dan pesantren perlu diperkuat agar lulusan yang dihasilkan tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga karakter dan integritas.
Kepada para wisudawan, Baharudin berpesan agar tetap menjaga nama baik almamater dan pesantren. Ia ingin para lulusan mampu menunjukkan bahwa pendidikan pesantren dapat melahirkan sumber daya manusia yang kompeten, profesional, berintegritas, sekaligus mampu menjadi teladan.
Dengan demikian, gelar sarjana yang disandang tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi, tetapi menjadi modal untuk kembali mengabdi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.***












