Scroll untuk baca artikel
Internasional

Puisi “Tetaplah Bodoh” dan Gugatan Nurani di Tengah Kekuasaan

×

Puisi “Tetaplah Bodoh” dan Gugatan Nurani di Tengah Kekuasaan

Share this article

 

3detik.com – Puisi kritis berjudul “Tetaplah Bodoh” karya Fathul Wahid kembali menyedot perhatian publik. Karya tersebut dibacakan secara berantai oleh Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), Firdaus, bersama para pengurus dan anggota SMSI dalam acara tutup tahun yang digelar pada 31 Desember 2025. Pembacaan puisi itu menjadi salah satu penanda refleksi kritis jelang pergantian tahun.

Bagi sebagian orang, puisi ini membangkitkan ingatan masa lalu tentang tokoh-tokoh “bodoh” yang justru menyimpan kebijaksanaan, sebagaimana karakter dalam cerita silat klasik. Namun dalam tangan Fathul Wahid, kata “bodoh” dihadirkan secara ironis—sebagai sindiran tajam terhadap kepintaran semu yang menuntut kepatuhan, membungkam kritik, dan menormalisasi ketidakadilan.

Fathul Wahid, yang juga dikenal sebagai rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, memang kerap menulis puisi bertema kritik sosial-politik. Sebelumnya, ia pernah melontarkan puisi berjudul “Kami Malu Pak Dirman” yang menyuarakan penolakannya terhadap RUU TNI. Melalui “Tetaplah Bodoh”, kritik itu kembali diarahkan secara terbuka pada praktik kekuasaan dan kebijakan publik.

Dalam puisi tersebut, Fathul secara satiris menyinggung pemerintahan Prabowo Subianto, khususnya terkait penanganan bencana banjir di Sumatera. Ia menguliti cara kekuasaan membingkai realitas—mulai dari kerusakan lingkungan, deforestasi, hingga alih fungsi hutan—seolah-olah sebagai peristiwa alamiah atau bahkan “takdir”.

Salah satu bait yang paling banyak dibicarakan adalah sindiran terhadap praktik pembalakan liar yang disamarkan sebagai kejadian alami. Fathul menulis tentang “kayu gelondongan yang tumbang sendiri”, lengkap dengan ironi penomoran kayu agar “tak tersesat pulang”. Kritik ini dibaca sebagai kecaman atas pembiaran eksploitasi hutan dan narasi manipulatif yang kerap menyertainya, termasuk pembenaran ekspansi perkebunan sawit atas nama pembangunan.

Puisi ini juga menyinggung polemik penanganan bencana dengan meledek sikap penolakan terhadap bantuan asing. Bait yang menyatakan bahwa bantuan kemanusiaan dianggap mengancam “martabat bangsa” membuat puisi tersebut viral dan menuai dukungan luas dari warganet. Banyak yang menilai, kritik Fathul mewakili kegelisahan publik terhadap cara negara merespons krisis kemanusiaan.

Secara keseluruhan, “Tetaplah Bodoh” bukanlah ajakan untuk benar-benar bodoh. Sebaliknya, puisi ini adalah seruan agar masyarakat menolak kepintaran palsu—kepintaran yang berarti tunduk pada manipulasi fakta, korupsi, dan ketidakadilan. Lewat sarkasme yang tajam, Fathul Wahid mengajak publik tetap kritis, berani bersuara, dan tidak menyerahkan nalar pada pembodohan yang dilembagakan.

Puisi ini pertama kali dibacakan langsung oleh Fathul Wahid dalam acara Kenduri dan Doa Ibu-ibu Berisik di Bundaran UGM pada 22 November 2025. Kini, melalui pembacaan ulang dan gaungnya di media sosial, “Tetaplah Bodoh” menjelma menjadi pengingat bahwa kritik, betapapun disampaikan lewat puisi, tetap memiliki daya gugah yang kuat di tengah lanskap demokrasi yang diuji.***