TULUNGAGUNG, 3detik.com – Bela negara bukan hanya soal mengangkat senjata atau tugas militer. Menjaga persatuan, mencintai tanah air, menaati aturan hingga ikut berkontribusi dalam pembangunan juga menjadi bagian dari bela negara.
Hal itu disampaikan Direktur Sumber Daya Manusia Potensi Pertahanan Ditjen Pothan Kementerian Pertahanan RI, Brigjen TNI R. Yoga Raharja, saat Sosialisasi Regulasi Kebijakan di Bidang Bela Negara dan Pembinaan Tenaga Ahli di Crown Victoria Hotel Tulungagung, Kamis (24/9/2026).
Yoga mengatakan, semangat bela negara perlu ditanamkan sejak dini, terutama kepada generasi muda. Menurutnya, anak-anak dan pemuda harus diberi ruang untuk mengembangkan potensi serta menyalurkan energinya melalui kegiatan yang positif.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita bersama-sama menjaga persatuan dan memberikan kontribusi terbaik untuk negara,” ujarnya.
Ia menyebut, kesempatan generasi muda untuk mengabdi kepada negara juga terbuka luas, termasuk melalui jalur TNI maupun kepolisian.
Namun, menurut Yoga, pembentukan kesadaran kebangsaan tidak harus menunggu seseorang masuk institusi negara. Wawasan kebangsaan justru perlu dikenalkan sejak usia sekolah.
Ia mencontohkan pembinaan wawasan kebangsaan yang sudah menyasar anak-anak sekitar usia 12 tahun. Langkah tersebut dinilai penting agar sejak dini mereka memahami persatuan, kebangsaan dan tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat.
Yoga juga membagikan pengalamannya selama berkarier di TNI, termasuk saat bertugas di Satuan 81 Kopassus, Kostrad hingga sejumlah operasi.
Ia berharap sosialisasi tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Nilai bela negara harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai kemampuan dan bidang masing-masing.
Sementara itu, Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin mengatakan tantangan terhadap ketahanan bangsa semakin kompleks. Perkembangan teknologi, perubahan sosial dan dinamika lingkungan strategis membuat kesadaran bela negara perlu terus diperkuat.
“Bela negara pada hakikatnya bukan semata-mata kewajiban dalam konteks pertahanan negara, tetapi juga sikap dan perilaku setiap warga negara,” kata Baharudin.
Menurutnya, upaya membangun kesadaran bela negara tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Diperlukan kerja sama antara pemerintah, TNI-Polri, dunia pendidikan, organisasi masyarakat, dunia usaha dan seluruh elemen masyarakat.
Bela negara, lanjut Baharudin, dapat diwujudkan melalui hal sederhana. Mulai menjaga keamanan lingkungan, menghormati perbedaan, menaati aturan hingga ikut mendukung pembangunan daerah.
“Mulai dari penyusunan kebijakan, pelaksanaan program, pembinaan masyarakat hingga penguatan koordinasi lintas sektor,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, sambutan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang diwakili Kepala Bakesbangpol Jatim Eddy Supriyanto juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam memperkuat kesadaran bela negara.
Pemprov Jatim, kata Eddy, terus mendorong pembinaan generasi muda melalui kerja sama dengan TNI dan berbagai lembaga. Salah satunya melalui pengembangan pendidikan yang menekankan karakter, nasionalisme dan kedisiplinan.
“Negara kita sangat luas dan besar. Yang bisa menjaga kita adalah kita sendiri. Karena itu, semangat bela negara harus tumbuh dari seluruh masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap sosialisasi di Tulungagung menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi pemerintah pusat, Pemprov Jatim, Pemkab Tulungagung serta TNI-Polri.
Dengan kolaborasi tersebut, pembinaan bela negara diharapkan tidak berhenti pada seremoni, tetapi terus berjalan dan menyentuh generasi muda secara berkelanjutan.***












