Scroll untuk baca artikel
Tulungagung

24 Siswa SDN 3 Bungur Diduga Keracunan Makanan Program MBG, Polisi dan Dinkes Turun Tangan

×

24 Siswa SDN 3 Bungur Diduga Keracunan Makanan Program MBG, Polisi dan Dinkes Turun Tangan

Share this article
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Tulungagung, insiden dugaan keracunan massal. Sebanyak 24 siswa SDN 3 Bungur, Kecamatan Karangrejo

TULUNGAGUNG, 3detik.com– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan untuk mendukung asupan gizi pelajar di Tulungagung tercoreng insiden dugaan keracunan massal. Sebanyak 24 siswa SDN 3 Bungur, Kecamatan Karangrejo, dilaporkan mengalami gejala mual, muntah, dan pusing setelah menyantap makanan yang disuplai SPPG Desa Bungur, Selasa (10/2/2026).

Peristiwa tersebut langsung memicu kepanikan di lingkungan sekolah. Para siswa yang menunjukkan gejala segera mendapat penanganan medis di Puskesmas Karangrejo.

Dugaan Makanan Tidak Higienis

Dari keterangan sejumlah pihak di lapangan, kualitas makanan disebut telah menuai keluhan sejak awal pelaksanaan program oleh penyedia. Beberapa siswa dan wali murid mengaku menemukan sayuran berbau tidak sedap, bahkan terdapat ulat pada menu yang dibagikan.

Temuan itu memunculkan dugaan lemahnya kontrol kualitas dan standar higienitas dalam proses produksi maupun distribusi makanan. Saat insiden terjadi, respons dari pihak penyedia juga dinilai kurang sigap dalam menangani situasi darurat.

LPK-RI Desak Penegakan Hukum

Lembaga Perlindungan Konsumen Republik Indonesia (LPK-RI) turut angkat bicara. Penasehat LPK-RI, Gus Edi Al Ghoibi, mengecam keras dugaan kelalaian tersebut.

Menurutnya, kasus ini mencerminkan rendahnya profesionalisme pengelola program. Ia menilai ada indikasi praktik kerja yang tidak mengedepankan standar pelayanan yang semestinya.

“Ini bentuk keteledoran yang tidak bisa ditoleransi. Aparat Penegak Hukum harus bertindak tegas terhadap pihak yang terbukti lalai,” ujarnya.

LPK-RI juga mendorong evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme pengawasan program MBG, terutama dalam aspek keamanan pangan dan pengendalian mutu.

Penanganan Medis dan Penyelidikan Berjalan

Kapolsek Karangrejo, AKP Neni Endah S, menyampaikan bahwa fokus utama saat ini adalah pemulihan kondisi para siswa. Dari total 24 siswa terdampak, 20 anak telah diperbolehkan pulang, sementara empat lainnya masih menjalani observasi lanjutan di Puskesmas Karangrejo.

Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta mengamankan sampel makanan untuk diuji di laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung. Hasil uji tersebut akan menjadi dasar penentuan langkah hukum berikutnya.

“Kami berkoordinasi dengan tenaga kesehatan dan instansi terkait untuk memastikan penyebab pasti kejadian ini,” jelas Kapolsek.

Evaluasi Program Mendesak

Insiden di SDN 3 Bungur menjadi alarm serius bagi pelaksanaan program strategis di tingkat daerah. Program MBG yang dirancang untuk mendukung perbaikan gizi dan pencegahan stunting justru berpotensi menimbulkan risiko kesehatan apabila pengawasan tidak dilakukan secara ketat.

Penguatan sistem monitoring, audit berkala terhadap penyedia, serta penerapan standar keamanan pangan yang terverifikasi dinilai menjadi langkah mendesak agar kejadian serupa tidak terulang. Kepercayaan publik terhadap program ini kini sangat bergantung pada transparansi penanganan kasus dan ketegasan evaluasi yang dilakukan pemerintah daerah.***