PAMEKASAN, 3detik.com – Di tengah kegelisahan publik terhadap arah pendidikan nasional yang kerap terjebak pada urusan administratif, capaian angka, dan ketimpangan akses, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Kyai Mudrikah Kembang Kuning hadir membawa narasi alternatif: pendidikan sebagai ruang harapan dan keberpihakan sosial.
Hal tersebut mengemuka dalam proses monitoring dan verifikasi pengajuan izin operasional pendirian madrasah yang dilakukan oleh Kementerian Agama Kabupaten Pamekasan. Tim dipimpin langsung Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Pamekasan, KH. Badrus Shomad, S.Ag., M.Pd.I, bersama operator kabupaten Jamik Iyah, SE, dan tim verifikator, Senin (26/1/2026).
Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam UIN Madura, Achmad Muhlis, menilai proses tersebut bukan sekadar prosedur birokrasi, melainkan momentum sosial yang menandai lahirnya lembaga pendidikan dengan visi keadilan sosial.
“Pendirian MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning mencerminkan fungsi pendidikan sebagai instrumen mobilitas sosial dan integrasi masyarakat, khususnya bagi keluarga tidak mampu, yatim, dan duafa yang selama ini berada di pinggiran sistem pendidikan formal,” ujarnya.
Menurut Muhlis, madrasah ini tidak hanya berperan sebagai lembaga transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai agen korektif atas ketimpangan struktural akibat faktor ekonomi, geografis, dan sosial. Kebijakan membuka akses pendidikan murah dan terjangkau menunjukkan kesadaran bahwa kemiskinan bukan semata kegagalan individu, melainkan produk relasi sosial yang timpang.
Ia menambahkan, keberpihakan terhadap peserta didik yatim dan duafa memiliki dampak psikologis yang signifikan. Madrasah dengan pendekatan inklusif dan kepedulian sosial tidak hanya menyediakan ruang belajar kognitif, tetapi juga ruang pemulihan psikologis untuk membangun kembali rasa percaya diri dan martabat peserta didik.
“Inisiatif one student one laptop juga patut dibaca sebagai strategi membangun kepercayaan diri dan kesiapan mental menghadapi dunia digital. Akses teknologi bagi anak dari keluarga kurang mampu adalah simbol pengakuan bahwa mereka setara secara potensial,” jelasnya.
Muhlis menilai MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning berhasil mengintegrasikan nilai keislaman, keadilan sosial, dan literasi teknologi dalam satu ekosistem pendidikan. Tradisi pesantren dan teknologi tidak diposisikan sebagai dua kutub yang berseberangan, melainkan saling melengkapi.
Lebih jauh, keterlibatan aktif Kementerian Agama Kabupaten Pamekasan menunjukkan peran negara dalam menjaga mutu pendidikan keagamaan. Namun, ia menekankan bahwa kualitas pendidikan tidak semata diukur dari kelengkapan dokumen administratif, melainkan dari visi sosial dan keberpihakan nilai yang diusung lembaga pendidikan.
“Dalam konteks masyarakat Madura yang kuat dengan tradisi pesantren dan solidaritas komunal, MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning berpotensi menjadi simpul sosial baru yang memadukan pendidikan, pengasuhan, dan pengabdian sosial,” tegasnya.
Ia menyimpulkan, pendirian MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning merupakan ikhtiar kolektif untuk mengembalikan pendidikan pada hakikatnya sebagai proses pemanusiaan manusia.
“Anak-anak miskin tidak membutuhkan belas kasihan, melainkan kesempatan. Pendidikan yang dikelola dengan visi sosial, psikologis, dan pedagogis yang utuh adalah bentuk kesempatan paling bermartabat,” pungkas Muhlis.***


